إن الإنسان خلق هلوعا. وإذا مسّه الشر جزوعا. وإذا مسّه الخير منوعا. إلا
المصلّين. الذين هم على صلاتهم دآئمون. (المعارج: 19-23)
“sesungguhnya manusia diciptakan bersifat mengeluh. Apabila dia
ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila dia mendapat kebaikan (harta)
dia jadi kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. Mereka yang tetap
melaksanakan salat.”
Dewasa ini kata galau sudah membuming dikalangan remaja.
Semua perasaan mereka kaitkan dengan kata galau. Memang kosa kata ini sudah
masuk dalam kamus bahasa Indonesia lama sebelum mereka berbondong-bondong
menggunakannya di berbagai jejering sosial tuk mengeluh dan mengadu. Kala sedih
dan gundah mereka tak lagi segan tuk memamerkannya ke semua orang. Mungkin dulu
kita sering mendengarkan “pikiran kacau, perasaan tidak tenang, hati gelisah”,
dan lain sebagainya. Tapi kemudian semua
orang jadi hemat vocab, GALAU. Mewakili semua perasaan gundah gulana.
Bukan ingin membahas kata galau, tapi saya lebih tertarik
untuk mengkaji sedikit kenapa seseorang galau?. Kenapa seseorang gelisah?
Ketika tertimpa musibah, seakan hanya dia seorang yang
mengalaminya. Seakan tidak ada yang bisa memahami keadaannya. Ingin rasanya
menceritakan kepada dunia bahwa dia dilanda musibah yang besar. Pertanyaannya
adalah, siapa yang memberikan musibah? Jawabannya Allah. So, kenapa kita tidak
meminta kepadaNYA untuk meringankan
kesedihan kita? Kenapa harus bercerita kesana kemari tuk mencari solusi?
Percayalah, mereka hanya bisa mendengarkan, tidak bisa menyelesaikan. Hanya
Allah lah yang mampu. Karena Ia maha segalanya.
Pun yang terpenting dari itu semua bukan memintaNYA
meringankan beban atau kesedihan, tapi mintalah untuk selalu jadi yang terkuat.
Bukan lemah terbawa kegundahan, tapi menjadi lebih
kuat dari masalah itu sendiri.


0 komentar: