“Assalamualaikum”, terdengar suara diseberang sana. Masih suara yang sama,
seperti terakhir kali aku menelponnya.
“Wa’alaikumsalam” jawabku,
dia mengulangi salam dan ku ulangi jawabanku. Mungkin tadi ada masalah
dengan sinyal sehingga dia tak begitu jelas mendengar suaraku. Maklum telpon
internasioal gini memang tak bisa
menjamin jernihnya obrolan.“Iyaaa, wa’alaikumsalam”, tegasku meyakinkan si
pendengar dengan suaraku.
“gimana kabarnya, Dek?” tanyanya bahkan aku belum menyebutkan
identitas.
“Alhamdulillah, sehat!
koq tau Ga? tau siapa yang
nelpon?
“Iya taulah, gimana gk kenal ma suara adek. Dari dulu tu smpe
sekarang suara adek gk berubah, masih sama aja kayak dulu. Belum ganti pita
suara kan?” jawabnya tak pernah lupa candain aku.
“Udah, kemaren ganti ama pita rambut”, jawabku lagi tak mau
kalah.
Hmm kapan ya Dek terakhir kita ng0brol, kangen banget. Udah
lama gk nelpon, kemana aja, blaa blaa blaa…”
Aku hanya nyengir senyam-senyum sendiri mendengarkan
ocehannya dan sesekali aku menimpali . Seperti biasa Yoga pasti seneng banget
kalau aku telpon gini. Maklum jarak yang memisahkan membuat komunikasi kami gak
menentu.
Sejam lebih tak terasa aku ngobrol dengannya. Dengan alasan
sudah malam dan gk berani pulang aku segera pamit dan menutup telpon. Bukannya
seneng aku malah risih berlama-lama ngobrol dengannya.
Karena tak jarang Yoga menanyakan kapan aku pulang dan selalu
mengingatkan supaya ke rumahnya kalau aku pulang nanti.
Pernah suatu hari ketika dia nyinggung kepulanganku “Kamu kenapa seh, tiap aku ngomong serius
kamu selalu mencoba mengalihkan pembicaraan? Hmm ga suka ya aku ngomong gitu…?”
Bukaaan,, ya gk usah di bahas
aja. Kan kita gk tw gimana kedepan.
Dari wartel (warung telkom) aku langsung pulang kerumah
pastinya setelah mampir sebentar ke kios depan rumah tuk beli susu. Hari gini
kesehatan sangat perlu diperhatikan lhoe, cuiit cuit, yang mau gemuk, hehe.
Setelah buka pintu segera kurogoh HP putihku, ku
pencet-pencet keypacknya yang agak keras, ngetik sms aja nyiksa jari ne HP.
Huufft.
satu pesan terkirim, recipent: Favorite, Aalbie.
“Sayaaaang, gimana kabarnya? Baik-baik aja kan? Gimana hari
ini, ada kegiatan apa? Pasti capek banget yaa? Yaudah istirahat aja yaa.”
Kulemparkan hp begitu saja atas kasur, karena kutahu tidak
akan ada yang menghubungiku, dan aku menuju kamar mandi tuk wudhu dan segera
salat magrib. Ahh, jam segini rumah memang sepi. Anggota rumah masih sibuk
dengan aktifitasnya diluar. Mungkin hanya aku yang betah bersemedi dirumah.
Kuambil Quran kecilku yang kubawa dari Aceh. Quran yang kubeli dulu waktu
dipesantren untuk melatih hafalan Quranku. Quran mungil pengganti Quran
terjemahanku yang dulu hilang. Tidak gonta-ganti quran, itulah salah satu
metode menghafal al-Quran yang kupraktikkan. Dengan selalu melihat quran yang
sama, kita akan mudah mengingat letak ayat dan kalimat yang kita hafal.
Aku baru menghabiskan bacaan quranku ketika pintu diketuk.
Terdengar seseorang memberi salam. “waaalaikumsalam, ninik? Sendiri? Lain mana?
Gak bareng?”
“yang mampir ke kios amu depan.”
“gimana kabar kamu dengan dia?” tanya Nik ketika kami
sama-sama berada dalam kamar. Dia selalu menyakan kabarku dengannya. Seakan dia sangat
perhatian dengan hubungan kami. “oh, biasa. Baik. Kenapa?” tanyaku lagi “gk
apa-apa. Cuma nanya aja.”
Selanjutnya kami disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Aku
memilih duduk depan rak buku yang terletak dipojok ruang tamu. Kutarik satu
buku dari deretannya, Audhahul masalik, buku nahwu karangannya Ibnu Malik,
ulama Nahwu dari Andalus.
Aku membolak-balikkan jilid pertamanya, karena bahan kuliah
kami memang menggunakan buku ini. Kuraih pensil diatas meja yang memang
kuletakkan disana sejak tadi sore. Ruang tamu ini sudah aku sulap jadi ruang
belajar. Ketika semua kawan-kawan menghabiskan waktu tuk belajar dikamar
masing-masing, inilah tempatku tuk belajar.
Tak lama berselang, semua anggota rumah sudah lengkap.
Ternyata mereka tadi memutar haluan, dan ngasob didepan. Ngasob
memang jadi hal paling menarik ketika malam menyapa. Udara cairo yang lumayan
membakar dahaga sangat cocok dihabiskn dengan nongkrong minum jus dibeberapa
tempat penjual jus. Salah seorang teman menyapa, dan kujawab seadanya. Seperti
biasa, cuek. Dan lainnya segera masuk kamar.
Aku masih menunggu balasan sms-ku tadi ketika kulirik jam
tangan yang kuletakkan atas meja menunjuk pukul 22.15 clt. Hp ku masih hening.
Belum ada kabar darinya. Aku coba melihat kekamar, ternyata beberapa kawan
sudah mulai istirahat. Tinggal dua
kepala lagi yang masih tegak berdiri dengan mata melotot ke arah buku yang
dibacanya. Aku menebak itu persiapan ujian. Sebagian orang yang memang akan mencicil
belajarnya sampai larut malam tuk hasil maksimal ujian nanti.
Pagi terasa begitu cepat, hal yang pertama kulakukan ketika
membuka mata adalah meraih ponsel dan mem-replay sms. Aku sadar semalam ketika
sms ny masuk sekitar pukul 03.00 dini hari. Tapi aku mengabaikannya. Bukan
ingin mengabaikan pemilik sms, tapi mata ku benar benar tak bisa di ajak
kompromi.
“iya Yank, maaf baru balas. Tadi setelah dari kuliah mampir
kerumah kawan sebentar. Pulangnya udah magrib. Salat dan turun lagi tuk
belanja. Setelah masak dan makan, datang kawan ngajak turun ngopi. Maaf gak
liat hp dari tadi.”
Aku tau, pasti akan ditutup dengan permintaan maaf. Seperti
biasa. Dan isi sms-nya sudah bisa aku hapal. Hanya beberapa kata yang diubah.
Aku sudah tau betul bagaimana kebiasaan hari-harinya. Apa yang dikerjakan dan
bersama siapa menghabiskan harinya.
Kubalas singkat, “iya. Gak apa-apa.”
Setelah semua rutin pagi kukerjakan, aku mulai membaca buku
tuk persiapan ujian. Jurusan yang kupilih terkenal killer, jangankan warga
indonesia bahkan orang Arab sendiri takut untuk mendengar namanya saja, Lughah
al-Arabiyah. Bahasa Arab.
Tidak tau apakah aku tersesat dalam pilihanku sendiri atau
memang ini murni dari hatiku, pastinya walaupun aku sudah mengalami kegagalan
tetap saja aku mencintai dan ingin sekali mendalami Bahasa Arab.
***
Pikiranku terus melayang ke tahun silam, ketika aku
memutuskan untuk menyendiri dan memberitahunya untuk tidak mengharapkanku lagi.
Dia yang kukenal belum lama ini sudah berhasil menggoyahkan hatiku, pada
akhirnya kami sepakat untuk berbagi hati. Yang pada akhirnya aku memilih
berhenti. Tidak lama, hubungan kami hanya berjalan 3 bulan.
Tapi kenyataan yang terjadi setelah itu berbeda, aku yang telah
memilih tuk sendiri dan tidak ingin lagi terjerumus ke dunia “gelap” itu
tergoyah, lagi. Setelah memikirkannya tuk beberapa lama aku menerima “hati”
tersebut. Pastinya dengan syarat dan
ketentuan yang aku tetapkan untuk diri sendiri. Komitment. Iya, komitmenku
untuk menjadikannya yang terakhir berlabuh dihatiku.
Walaupun aku sudah menerima perasaannya, tapi belum
sepenuhnya aku mencintainya. Aku masih saja menelpon yoga di sela-sela waktu
aku menelpon keluarga di kampung halaman. Dan seperti biasa, dia selalu
mengingatkanku untuk menemuinya ketika aku pulang nanti, karena –katanya- hanya
aku satu-satunya yang dinanti dan diharapkannya. Kembali ke komitment-ku, aku
tidak bisa begini terus. Aku harus melupakan salah satu dari mereka. Aku harus
berhenti menghubunginya.
Ini kisah tentang Dia, Loe, Gue.
*masih dalam editan. GEJEZ


0 komentar: