Facebook

Dialogue!

aulieya         No comments
“Assalamualaikum”, terdengar suara diseberang sana. Masih suara yang sama, seperti terakhir kali aku menelponnya.
“Wa’alaikumsalam” jawabku,  dia mengulangi salam dan ku ulangi jawabanku. Mungkin tadi ada masalah dengan sinyal sehingga dia tak begitu jelas mendengar suaraku. Maklum telpon internasioal gini memang  tak bisa menjamin jernihnya obrolan.“Iyaaa, wa’alaikumsalam”, tegasku meyakinkan si pendengar dengan suaraku.
“gimana kabarnya, Dek?” tanyanya bahkan aku belum menyebutkan identitas.
“Alhamdulillah, sehat!  koq tau Ga?  tau siapa yang nelpon?

“Iya taulah, gimana gk kenal ma suara adek. Dari dulu tu smpe sekarang suara adek gk berubah, masih sama aja kayak dulu. Belum ganti pita suara kan?” jawabnya tak pernah lupa candain aku.
“Udah, kemaren ganti ama pita rambut”, jawabku lagi tak mau kalah.
Hmm kapan ya Dek terakhir kita ng0brol, kangen banget. Udah lama gk nelpon, kemana aja, blaa blaa blaa…”

Aku hanya nyengir senyam-senyum sendiri mendengarkan ocehannya dan sesekali aku menimpali . Seperti biasa Yoga pasti seneng banget kalau aku telpon gini. Maklum jarak yang memisahkan membuat komunikasi kami gak menentu.
Sejam lebih tak terasa aku ngobrol dengannya. Dengan alasan sudah malam dan gk berani pulang aku segera pamit dan menutup telpon. Bukannya seneng aku malah risih berlama-lama ngobrol dengannya.
Karena tak jarang Yoga menanyakan kapan aku pulang dan selalu mengingatkan supaya ke rumahnya kalau aku pulang nanti.

Pernah suatu hari ketika dia nyinggung kepulanganku “Kamu kenapa seh, tiap aku ngomong serius kamu selalu mencoba mengalihkan pembicaraan? Hmm ga suka ya aku ngomong gitu…?”
Bukaaan,, ya gk usah di bahas aja. Kan kita gk tw gimana kedepan.

Dari wartel (warung telkom) aku langsung pulang kerumah pastinya setelah mampir sebentar ke kios depan rumah tuk beli susu. Hari gini kesehatan sangat perlu diperhatikan lhoe, cuiit cuit, yang mau gemuk, hehe.
Setelah buka pintu segera kurogoh HP putihku, ku pencet-pencet keypacknya yang agak keras, ngetik sms aja nyiksa jari ne HP. Huufft.
satu pesan terkirim, recipent: Favorite, Aalbie.

“Sayaaaang, gimana kabarnya? Baik-baik aja kan? Gimana hari ini, ada kegiatan apa? Pasti capek banget yaa? Yaudah istirahat aja yaa.”

Kulemparkan hp begitu saja atas kasur, karena kutahu tidak akan ada yang menghubungiku, dan aku menuju kamar mandi tuk wudhu dan segera salat magrib. Ahh, jam segini rumah memang sepi. Anggota rumah masih sibuk dengan aktifitasnya diluar. Mungkin hanya aku yang betah bersemedi dirumah. Kuambil Quran kecilku yang kubawa dari Aceh. Quran yang kubeli dulu waktu dipesantren untuk melatih hafalan Quranku. Quran mungil pengganti Quran terjemahanku yang dulu hilang. Tidak gonta-ganti quran, itulah salah satu metode menghafal al-Quran yang kupraktikkan. Dengan selalu melihat quran yang sama, kita akan mudah mengingat letak ayat dan kalimat yang kita hafal. 

Aku baru menghabiskan bacaan quranku ketika pintu diketuk. Terdengar seseorang memberi salam. “waaalaikumsalam, ninik? Sendiri? Lain mana? Gak bareng?”
“yang mampir ke kios amu depan.”
“gimana kabar kamu dengan dia?” tanya Nik ketika kami sama-sama berada dalam kamar. Dia selalu menyakan kabarku dengannya. Seakan dia sangat perhatian dengan hubungan kami. “oh, biasa. Baik. Kenapa?” tanyaku lagi “gk apa-apa. Cuma nanya aja.”

Selanjutnya kami disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Aku memilih duduk depan rak buku yang terletak dipojok ruang tamu. Kutarik satu buku dari deretannya, Audhahul masalik, buku nahwu karangannya Ibnu Malik, ulama Nahwu dari Andalus.

Aku membolak-balikkan jilid pertamanya, karena bahan kuliah kami memang menggunakan buku ini. Kuraih pensil diatas meja yang memang kuletakkan disana sejak tadi sore. Ruang tamu ini sudah aku sulap jadi ruang belajar. Ketika semua kawan-kawan menghabiskan waktu tuk belajar dikamar masing-masing, inilah tempatku tuk belajar.

Tak lama berselang, semua anggota rumah sudah lengkap. Ternyata mereka tadi memutar haluan, dan ngasob didepan. Ngasob memang jadi hal paling menarik ketika malam menyapa. Udara cairo yang lumayan membakar dahaga sangat cocok dihabiskn dengan nongkrong minum jus dibeberapa tempat penjual jus. Salah seorang teman menyapa, dan kujawab seadanya. Seperti biasa, cuek. Dan lainnya segera masuk kamar.

Aku masih menunggu balasan sms-ku tadi ketika kulirik jam tangan yang kuletakkan atas meja menunjuk pukul 22.15 clt. Hp ku masih hening. Belum ada kabar darinya. Aku coba melihat kekamar, ternyata beberapa kawan sudah mulai istirahat. Tinggal  dua kepala lagi yang masih tegak berdiri dengan mata melotot ke arah buku yang dibacanya. Aku menebak itu persiapan ujian. Sebagian orang yang memang akan mencicil belajarnya sampai larut malam tuk hasil maksimal ujian nanti.
Pagi terasa begitu cepat, hal yang pertama kulakukan ketika membuka mata adalah meraih ponsel dan mem-replay sms. Aku sadar semalam ketika sms ny masuk sekitar pukul 03.00 dini hari. Tapi aku mengabaikannya. Bukan ingin mengabaikan pemilik sms, tapi mata ku benar benar tak bisa di ajak kompromi.

“iya Yank, maaf baru balas. Tadi setelah dari kuliah mampir kerumah kawan sebentar. Pulangnya udah magrib. Salat dan turun lagi tuk belanja. Setelah masak dan makan, datang kawan ngajak turun ngopi. Maaf gak liat hp dari tadi.”

Aku tau, pasti akan ditutup dengan permintaan maaf. Seperti biasa. Dan isi sms-nya sudah bisa aku hapal. Hanya beberapa kata yang diubah. Aku sudah tau betul bagaimana kebiasaan hari-harinya. Apa yang dikerjakan dan bersama siapa menghabiskan harinya.
Kubalas singkat, “iya. Gak apa-apa.”

Setelah semua rutin pagi kukerjakan, aku mulai membaca buku tuk persiapan ujian. Jurusan yang kupilih terkenal killer, jangankan warga indonesia bahkan orang Arab sendiri takut untuk mendengar namanya saja, Lughah al-Arabiyah. Bahasa Arab.
Tidak tau apakah aku tersesat dalam pilihanku sendiri atau memang ini murni dari hatiku, pastinya walaupun aku sudah mengalami kegagalan tetap saja aku mencintai dan ingin sekali mendalami Bahasa Arab.

***

Pikiranku terus melayang ke tahun silam, ketika aku memutuskan untuk menyendiri dan memberitahunya untuk tidak mengharapkanku lagi. Dia yang kukenal belum lama ini sudah berhasil menggoyahkan hatiku, pada akhirnya kami sepakat untuk berbagi hati. Yang pada akhirnya aku memilih berhenti. Tidak lama, hubungan kami hanya berjalan 3 bulan.

Tapi kenyataan yang terjadi setelah itu berbeda, aku yang telah memilih tuk sendiri dan tidak ingin lagi terjerumus ke dunia “gelap” itu tergoyah, lagi. Setelah memikirkannya tuk beberapa lama aku menerima “hati” tersebut.  Pastinya dengan syarat dan ketentuan yang aku tetapkan untuk diri sendiri. Komitment. Iya, komitmenku untuk menjadikannya yang terakhir berlabuh dihatiku.

Walaupun aku sudah menerima perasaannya, tapi belum sepenuhnya aku mencintainya. Aku masih saja menelpon yoga di sela-sela waktu aku menelpon keluarga di kampung halaman. Dan seperti biasa, dia selalu mengingatkanku untuk menemuinya ketika aku pulang nanti, karena –katanya- hanya aku satu-satunya yang dinanti dan diharapkannya. Kembali ke komitment-ku, aku tidak bisa begini terus. Aku harus melupakan salah satu dari mereka. Aku harus berhenti menghubunginya.

Ini kisah tentang Dia, Loe, Gue. 

*masih dalam editan. GEJEZ 
Published by aulieya

Nulla sagittis convallis arcu. Sed sed nunc. Curabitur consequat. Quisque metus enim venenatis fermentum mollis. Duis vulputate elit in elit. Si vous n'avez pas eu la chance de prendre dans tous.
Follow us Google+.

0 komentar:

Contact

Powered by Blogger.