Facebook

Sekecil apapun itu, jangan ragu. Tebarkanlah!.

Jangan kau samakan kebaikan dengan kejahatan. Ketika kejahatan dihitung satu setiap kali ia dikerjakan bahkan tidak dihitung ketika itu hanya niat saja, kebaikan malah menggunakan penjumlahan diatas rata-rata ketika ia dikerjakan dan juga akan dihitung walaupun itu baru terlintas dalam hatinya.

kebaikan, terlepas dari kecil besarnya ia, pasti akan mendatangkan kebaikan lainnya. Ntah itu semisal, ataupun lebih besar.

Al-Quran sendiri sudah menjelaskan, dalam surat Al-Isra; ayat 7, Allah mengatakan: 
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri". 

Apalagi yang kamu takutkan dalam berbuat kebaikan, ketika Al-Quran sendiri jauh-jauh hari sudah membicarakannya. Takut hartamu habis jika kamu sedekahkan kepada mereka? Takut kamu akan hilang wibawa jika kamu begabung dengan perkumpulan orang-orang miskin dan ikut meringankan beban mereka barang sehari saja? 

Apa yang kamu banggakan dengan kelebihanmu itu, jika tidak untuk dibagi? Bukankah indahnya hidup ini dengan saling berbagi? 

"Ta'awanu 'ala birri wattaqwa, wala ta'awanu 'ala itsmi wal 'udwan"
Sesaat air mata terus mengalir
Deras tak terbendung lagi
Sesak didada turut membanjiri
Tumpah bersama linangan dipipi

Sadarku akan dosa silam
Rintihku semakin mendalam
Kutahu ini semua teguran
Karena aku teramat KAU sayang

Aku bertaubat dari kekhilafan
Aku takut azab kepedihan


Maret, 2015


Tidak boleh frustasi
Apalagi larut dengan kondisi
Teruslah Meniti hari
Menatap mentari pagi
Dengan segenap mimpi memperbaiki diri

Kamu hanya tau apa yang terjadi
Tapi tidak mengerti hikmah dibalik ini
Kelak kamu menemukan hikmah
Dan hidup akan cerah

Karena,,,
Bola kelereng raksasa kuning kemerahan
Masih keluar dari peraduan
Purnama sempurna bulat mengkilau akan tetap menghiasi,
Dan kejora gemerlap serta sang surya menaungi
 
#latespost



إن الإنسان خلق هلوعا. وإذا مسّه الشر جزوعا. وإذا مسّه الخير منوعا. إلا المصلّين. الذين هم على صلاتهم دآئمون. (المعارج: 19-23)
“sesungguhnya manusia diciptakan bersifat mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila dia mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. Mereka yang tetap melaksanakan salat.”


Dewasa ini kata galau sudah membuming dikalangan remaja. Semua perasaan mereka kaitkan dengan kata galau. Memang kosa kata ini sudah masuk dalam kamus bahasa Indonesia lama sebelum mereka berbondong-bondong menggunakannya di berbagai jejering sosial tuk mengeluh dan mengadu. Kala sedih dan gundah mereka tak lagi segan tuk memamerkannya ke semua orang. Mungkin dulu kita sering mendengarkan “pikiran kacau, perasaan tidak tenang, hati gelisah”, dan lain sebagainya.  Tapi kemudian semua orang jadi hemat vocab, GALAU. Mewakili semua perasaan gundah gulana.
Bukan ingin membahas kata galau, tapi saya lebih tertarik untuk mengkaji sedikit kenapa seseorang galau?. Kenapa seseorang gelisah? 

       Ketika tertimpa musibah, seakan hanya dia seorang yang mengalaminya. Seakan tidak ada yang bisa memahami keadaannya. Ingin rasanya menceritakan kepada dunia bahwa dia dilanda musibah yang besar. Pertanyaannya adalah, siapa yang memberikan musibah? Jawabannya Allah. So, kenapa kita tidak meminta kepadaNYA untuk meringankan kesedihan kita? Kenapa harus bercerita kesana kemari tuk mencari solusi? Percayalah, mereka hanya bisa mendengarkan, tidak bisa menyelesaikan. Hanya Allah lah yang mampu. Karena Ia maha segalanya. 

      Pun yang terpenting dari itu semua bukan memintaNYA meringankan beban atau kesedihan, tapi mintalah untuk selalu jadi yang terkuat. Bukan lemah terbawa kegundahan, tapi menjadi lebih kuat dari masalah itu sendiri.

Contact

Powered by Blogger.