November 2012, aku berhijrah dari tempat yang sudah sangat bosan aku lihat ke tempat baru yang aku sendiri belum tau dimana itu. Dari dulu aku hanya ikut saja kemana orang membawaku, tanpa menanyakan itu ini aku hanya nurut. Tapi hari ini beda, kalau biasanya aku hijrah bersama kawan-kawanku, hari ini aku berangkat sendiri. Aku harus rela meninggalkan kawan-kawanku walau dalam hati batinku berteriak seneng karena aku jadi pilihan. yaap, Aku yang di pilih untuk dibawa ke suatu tempat itu, bukan kawan-kawanku.
Berapa hari aku berada di kediamannya, aku tak pernah diajak bicara dan bercanda. Jangankan berharap dicandain, dilihatnya saja mungkin segan. Aku tak paham dengan sikapnya. Aku tak mengerti mengapa dia membawaku tapi seperti tak membutuhknku. Aku sedih, sepi dalam kesendirian. Aku ingin kembali bersama mereka, yang menerimaku apa adanya.
Hari-hari berlalu begitu saja, dia seakan tidak mnyadari keberadaanku. Aku masih sendiri. Sepi.
Tiba-tiba,,, Kkkkrrkk ssstttthh kkkkrrrr ssttt kkkkrrrrrr
“Apa itu? Apa itu? Kenapa dia tergesa-gesa begitu. Apa yg akan dia lakukan padaku?” Tatapannya tak beralih dariku. Aku mulai waswas tak karuan. Aku mulai tak tenang dengan pemandangan ini. “apakah dia akan membuangku, menelantarkanku sendirian dijalan?”. Aku hanya meghela nafas pasrah.
Dan belakangan aku tau kenapa dia tak pernah bicara bahkan mengajakku bercanda. Dia tidak mau keberadaanku diketahui kawan-kawannya, selain dia tidak mau jadi bahan tertawaan, dia juga tidak sepenuhnya ingin memilikiku. Dia hanya mengambilku untuk diberikan kepada orang terdekatnya.
Pukul 22.30 clt menjelang dini hari, aku ikut bersamanya menembus kegelapan dan dinginnya malam. Aku harap-harap cemas kemana aku akan dibawanya. Berharap akan bertemu dengan orang yang mnyukaiku dan memperlakukanku dengan baik. Dalam perjalanan batinku tak berhenti berdoa.
Menjelang 00.00 dini hari aku benar-benar berpindah tempat. Mulai hari ini aku akan tinggal dengan sahabat baruku. Mengapa aku begitu yakin menyebutnya sahabat? Aku bisa lihat dari raut wajahnya. Aku tau dia bakal senang denganku dan pasti memperlakukanku dengan baik. Sekarang kecemasanku yang tak berlandaskan itu berubah jadi senyum bahagia. Horee, aku punya sahabat, jeritku dalam hati kegirangan.
_*_*_
Aku tak pernah kesepian. Hari-hariku selalu disamping sahabat baruku. Dia tak pernah meninggalkanku sendiri. Aku selalu duduk disampingnya. Dia selalu mengajakku utuk menemaninya distiap kesibukannya. Sahabat baruku benar-benar menyayangiku. Dengan senang dan bangga dia memperkenalkanku pada teman-temannya, sampai aku sendiri sudah hapal kata-kata andalannya waktu menyebutkan asal-usulku.
Hari-hariku indah bersamanya. Tak ada kesedihan, yang ada hanya senyuman dan kebahagiaan.
Walau terkadang aku menyesali keberadaanku disini. Kehadiranku mmbuatnya lebih memperhatikanku daripada sahabat lamanya, yang sekarang juga jadi sahabatku, aku merasa bersalah.
####
Hari ini dengarkan aku sobat. Dengarkan sedikit keluhku. Liat aku wahai sobatku tersayang. Aku juga menyayangimu seperti kamu menyayangiku. Aku sangat tau, tau betul bagaimana sayangmu padaku tapi aku ingin kamu mendengar sedihku. Sedikit sedihku.
semenjak kamu mengikuti belajar "khusus" itu aku selalu jadi targetmu. Jam belajarmu bertambah dan aku semakin tersiksa. Dua bulan sudah berlalu, sedih ini kupendam. sakit ini kutahan. Hati ini menangis walau bibir tersenyum manis.
Seperti kata-kata awalku, aku selalu senang berada disampingmu, sobatku. Aku juga pasti rela diperlakukan seenak hatimu. Saat kau jadikan aku meja belajarmu, aku senang dan bangga bisa membantumu dalam setiap kebutuhan. Bisa menempatkan diriku sesuai keinginanmu. Tapi hati kecilku merintih, tegakah dirimu menimpaku dengan buku-buku dan kamus beratmu itu. Sanggupkah dirimu melihat tangan atau kakiku yang telipat sebelah bahkan kedua tangan kakiku mungkin sengaja kau lipat untuk membenarkan posisi belajarmu yang nyaman. Kamu egois.
Tak cukup disitu, pernah beberapa kali kamu jadikan aku bangku empukmu. Dengan santai dan nyamannya kamu belajar tapi tidak memikirkan aku yang kamu duduki ini. Dua, tiga, empat bahkan lima kali ganti posisi masih saja membuatmu tidak mengerti perasaanku. Kamu egois.


Sabahatku tersayang, itu sudah terjadi dan aku sudah memaafkanmu. Aku tak menyimpan marah maupun dendam. Hanya saja pintaku, aku tak mau lagi jadi target ganasmu. Tak ingin lagi sakit karenamu. Aku hanya berharap selalu disampingmu, menemanimu setiap saat. Jagalah aku sehingga
kamu bisa menjaga hatinya disana. :)
salam sayang sabahatmu,twitty. :D



0 komentar: