Tahun
ini lagi-lagi aku merayakan lebaran Idul Adha dinegeri orang. Dengan perayaan
ala kadarnya, halal bihalal dengan sesama mahasiswa Aceh di Cairo, silaturrahim
kerumah-rumah dan ngumpul duduk santai ditempat yang telah disepakati cukup
untuk menambah rasa gembira menutupi kesedihan dilanda sindrom homesick.
Tapi semua itu tidak menutup kemungkinan untuk
bisa merasakan kue-kue khas tanah kelahiran.
Berbeda dengan dua tahun
silam aku bisa merasakan karah yang biasa kusebut sendiri uempung
mirik (sarang burung pipit) dirumah salah satu senior karena orangtuanya
baru datang dari tamiang, lebaran ini aku bisa mencicipi kembang goyang yang
biasa kita kenal samaloyang dengan lagu favorit anak-anak kecil dulu “seupet
kuet samaloyang, adek tarek abang goyang”, dirumah kakak senior yang sudah
berkeluarga.
Berbeda dengan dua tahun
silam aku bisa merasakan karah yang biasa kusebut sendiri uempung
mirik (sarang burung pipit) dirumah salah satu senior karena orangtuanya
baru datang dari tamiang, lebaran ini aku bisa mencicipi kembang goyang yang
biasa kita kenal samaloyang dengan lagu favorit anak-anak kecil dulu “seupet
kuet samaloyang, adek tarek abang goyang”, dirumah kakak senior yang sudah
berkeluarga.
Kalau sudah begini tidak ada
bedanya lebaran disini dengan disana, kampung halaman. Kekeluargaan dan sosial
tinggi yang ditawarkan mahasiswa Aceh sendiri sudah mewakili semua. Walaupun
disisi lain lain, disudut lain yang tak terlihat oleh siapapun, api rindu
keluarga dikampung tetap mengobar, dan tak ada yang mampu memadamkannya.
:)


subhanallah kak wik ;) jadi pengennnsss
ReplyDeletemau dong kue samaloyang nyaaaa :D
hiihiii
ReplyDeletead ilaaaa... udh nympe ksni aj...
samaloyang ny sisa 2 lgi.. :-D